Utang identik dengan kepercayaan. Pemberi utang percaya kepada penerima utang bahwa uangnya akan digunakan sebaik-baiknya dan akan dikembalikan pada waktu yang telah disepakati bersama. Utang juga bisa menjadi motivasi seseorang agar lebih giat lagi dalam bekerja. Oleh karenanya, wajib hukumnya bagi seorang pengusaha untuk memiliki utang. Demikian disampaikan oleh Purdi E Chandra, pemilik Grup Primagama, dalam sebuah seminar.
Hal tersebut sedikit bertentangan dengan kultur Jawa. Pada umumnya orang tua menanamkan kepada anaknya untuk tidak utang karena dianggap memalukan. Demikian juga dalam berbisnis. Kebanyakan enggan untuk meminjam modal. Dengan modal sendiri mereka merasa lebih nyaman. Kalau toh usahanya gagal, tidak ada tanggungan utang. Mungkin itu juga yang menyebabkan orang Jawa kurang maju dalam hal bisnis. Kurang berani mengambil resiko. [Apa benar demikian?]
Namun sekarang Bank dan lembaga keuangan lainnya begitu agresif menawarkan utang dengan berbagai cara. Beli rumah, mobil, motor, sudah lazim dilakukan dengan utang. Apalagi dengan adanya credit card, semakin memudahkan orang untuk menebar utang di mana-mana dengan bangganya. [Utang sudah menjadi lifestyle?!]
Setuju dengan yang mana dari ketiga ‘faham’ di atas?
- Utang sebagai sebuah keharusan
- Utang sebagai sebuah hal yang memalukan
- Utang sebagai sebuah gaya hidup
Tuliskan opini Anda, singkat, padat dan jelas



pertamax!! wkwkwkwkwk XD
kalo saiyah malu banget punya hutang.. tapi kalo kepepet.. pastinya ngutang ke orang yang terpercaya.. orang tua ato pacar, meybi
terkadang, kita juga butuh hutang agar hidup lebih berwarna.. why?? dengan adanya hutang, brarti ada beban untuk membayarnya.. otomatis kita punya tujuan untuk hidup atau bekerja.. sehingga kita gk cenderung bermalas2 dalam hidup inih..
hutang.. bikin hidup makin bergairah!!
tapi kalo kbanyakan hutang.. bikin hidup lebih memusingkan XD
utang yg disebut purdi e chandra itu utang produktif. nggak bisa disamakan dg kreditan rumah, mobil, ato motor. nggak apple to apple. postingmu menjebak nih.
*aduh sy masih blom bayar kost*
tertuduh gw
tergantung pakdhe….maksudnya utangnya mau digunakan untuk apa dulu? jadi, diantara ketiga ‘faham’ di atas, aku sih berharap jangan sampe menganut ‘faham’ yang nomor 1 apalagi nomor 3,hehe…..
prinsipku mungkin seperti kebanyakan orang djawa, kalau ga kepepeeeeeeeet banget ga bakalan utang.
*tawaran hosting masih berlaku nih……btw ojo gratis tho, iso2 gajiku engko dipotong mbek bosku, wak…wak..wak…*
waduh…saya juga masih punya utang..
Utang buat beli kutang??
aiiihh IrBa banget deh Bow
hutangku dimana2… hwa……. yon bisa bantuin nyicil bayar ndak.. wkwkwkwk
Sory,dion kalo aku kurang sependapat dengan pendapat kamu diatas. Setahu aku dalam kultur jawa orang tua tidak pernah ngajarin buat ngutang karena dianggap memalukan. Tapi ngajarin kalo ngutang gak mbayar-mbayar itu memalukan.
Menurut aku pendapat diatas tidak 100% benar, orang jawa kurang maju dalam hal bisnis, bukan karena tidak berani mengambil resiko, Tapi karena Sebagian besar orang Jawa yang sempat mengenyam bangku sekolah, apalagi termasuk golongan murid pintar di kelas, memiliki pola yang lurus, urut dan linear. Semua harus logis dan masuk akal. Mereka menolak hal-hal yang dianggap tidak masuk akal. Sebagai contoh : Agar seseorang bisa hidup maka harus mencari rejeki, untuk mencari rejeki maka harus bekerja, untuk bekerja maka kita harus pintar atau mempunyai keterampilan, dan untuk bisa pintar harus sekolah, dan sekolah pun ada urutannya, yakni: TK, SD, SMP, SMA, kuliah lalu kerja. Sedangkan sebagian besar pengajar adalah PEGAWAI maka cara berpikirnya akan mempengaruhi tindakan dan ucapannya yang selanjutnya mempengaruhi sikap dan pola pikir anak didiknya. Saat kita masih duduk di bangku SD, guru sering kali membuat sebuah contoh kalimat,
Rasanya saya belum pernah ada guru yang membuat sebuah contoh kalimat,
Sekilas, mungkin ini hanya sebuah permainan kata-kata biasa, tapi apabila kita mau melihat lebih dalam, ini bukan sekedar permainan kata-kata tapi menunjukan suatu pola pikir. Tidak pernah terlintas dalam benak mereka “untuk menjual sayur” karena mereka PEGAWAI YANG BERGAJI TETAP DAN BERPRILAKU KONSUMTIF. Padahal kata “menjual” mencerminkan suatu tindakan produktif yang harus dimiliki setiap orang yang ingin sukses.
Selain itu, adalah di Jawa orang tua mempunyai kebiasaan menggadang-gadang (mendoakan) anaknya, misal :
Saya gak pernah denger orang tua yang menggadang-gadang (mendoakan) anaknya, seperti :
atau
Mengenai hutang yang dimaksud hutang oleh om Purdi E. Candra disini mungkin adalah Hutang Produktif, bukan hutan konsumtif.
Sory kepanjangan, Det.
Mengenai 3 opsi diatas, aku gak setuju point 1 dan 3. Point 2 setuju kalo ngutang tapi gak mbayar-mbayar.
*wekz liat koment pram*
saya kok ndak milih ketiga-tiganya.
aku bpendapat, utang itu hanya akan membebani hidup. kalau sudah tbebani, otak ini tidak bisa bfikir kreatif sehingga menghambat pkerjaan…
lbh baik punya nul rupiah drpd punya utang berjut-jut. karena lbh menyehatkan.. terutama buat otak.
kecuali nek kepepet lo.. bedo maneh masalahe.. misal biaya rumah sakit, bar ngilangne motor, atau buat biaya sekolah,dll.
ngutang itu kalo kita mampu bayarnya dan dalam keadaan terdesak aja sih.. kalo masih mampu nabung ya gak usah beli secara kredit, lagian skrang banyak yg barang cicilannya ditarik lagi gara2 gak kuat bayar.. ya diperhitungkan lah kemampuan kita buat bayar utang..
Menurut saya .. tidak ketiga-tiganya. Artinya hutang bukan suatu keharusan, juga bukan hal yang memalukan serta pun tidak sebagai gaya hidup. Loh koq bisa?
Tergantung kehidupan yang dihadapi serta harapan yang dirajut dimasa depan. Jika seseorang merasa nyaman dengan apa yang sudah dimilikinya .. saya pikir, it’s okey. Fine-fine aja. Ga perlu niru-niru orang lain buat kredit ini, kredit itu.
Tapi jika ada yang ingin berkembang, dan merasa membutuhkan sarana produksi yang memadai untuk mendukung usahanya mencapai cita-cita, mengapa tidak? .. ribet ya?? hehehe .. emang sengaja hahaha
Gini loh .. ada seorang penjual sayur. Karena persaingan yang semakin ketat di pasar sayur, dia putar otak. Gimana kalo sayur itu dijajakan dari rumah ke rumah. Karena rumah pelanggan jauh-jauh, dia pikir dia mesti punya kendaraan.
Nah, duit nya ora cukup buat beli kendaraan. Kalo nunggu tabungan penuh, bisa-bisa duitnya lama bertambah karena omsetnya kecil. Akhirnya, dia kredit motor — tentunya setelah dihitung2 dong antara biaya dan pendapatan.
Dengan adanya kendaraan, maka area jangkauan pasarnya menjadi lebih luas dan dengan demikian dia dapat meningkatkan omsetnya dus sekaligus pendapatannya. Hmm .. gimana .. sudah cukup jelas??
Jadi mengutang itu tidak harus, tidak memalukan dan tidak gaya hidup. Saya setuju dengan mas Pramudya, kalo ga bayar hutang, itu baru memalukan
kenapa hanya dibatasi menjadi 3 kriteria?
menurut saya masiy banyak kriteria yang dapat dimaskkuan juga antara lain:
4. Hutang karena kepepet
misalnya ibu sakit butuh kedokter, tapi ga punya uang,,hehehe
5. utang sebagai pengiritan
misalnya, dengan menggunakan kartu utang gesekan, kita menghemat 51% persen jika makan di restoran sudi mampir
>>lumayan banget kan
6. utang sebagai investasi
misalnya, karena mendengar harga unit link turun,,maka membeli dalam jumlah banyak menggunakan duit utang.
banyak kan alasan yang bisa masuk.
@ ndop : selamat anda adalah termasuk orang jawa yang seperti yang didefinisikan oleh Det
@rZd : Saya setuju dengan pendapat sampeyan, kenapa hanya di batasi jadi 3 saja ? Mungkin si det baru kepikiran 3 kategori aja.
@aRul : hehehe … sory ya, rul. Gak tahu nih tadi nulis koment gak kerasa, eh waktu di kirim ternyata banyak banget. Btw kalo menurut det kultur jawa seperti itu, giman dengan kultur di daerah asal sampeyan, Rul ?
@Det: sory banget ya Det, kalo komentnya kepanjangan. “Credit Card, Life style ?” wah sepertinya aku dapet topik postingan nih.
@ecchan: saya setuju dengan baris terakhir itu
@fahmi: untungnya kamu ndak terjebak mie.. tapi komentarmu gantian menjebak, gak njawab! utang menurutmu piye?
@arul: itu juga termasuk utang, Rul.. utang otomatis berlandaskan kepercayaan atau kepinteran untuk nylintut [menghindar] dari ibu kost
@kaudanaku: tawaran hostingnya saya tolak kecuali gratis! :p
@cK: ah masa sih chika punya utang? *kalo kutang, pasti punya*
@bukaningrat: hahaha… ternyata aku terispirasi ngomentari komentar chika dari kamu kik!
@anang: berarti sampiyan dipercaya banyak orang cak
@pram: wah terimakasih bang sudah memberikan resensi tulsan saya
@ndop: jowo banget!
@ridu: sepakat bro!
@erander: *menjura*
@rzd: lho sengaja dibuat gitu untuk opening diskusi ning risda… lha akhirnya sampiyan mengeluarkan lanjutannya khan?!
Sayah lebih sukak ngutangi.
Ngutangi berasal dari kata dasar Kutang.
Jadi Kutang itu,….
Lho…???
Piye to iki ???
Utang adalah cara menyelesaikan masalah dengan cepat tapi cuma sesaat
utang kalo pas perlu banget dan merasa mampun untuk membayar.. kayaknya itu deh yang penting. hehe
sotoy mode : on
utang sebagai gaya hidup ??
gaya apaan sih ??, gaya dada??, gaya bebas??, ato gaya ngutang ??
*garut – garut kepala*
@mbel: cak mbel emang suka ngutangi siapa aja! siska, tanti, ratu… sopo maneh cak?! [ngutangi versi cak mbel]
@febra: menyelesaikan masalah yang menimbulkan masalah lain, gitu ya bro..
@chic: memang harus begitu kan, tapi kadang saking butuhnya udah gak mikir ntar mampu bayar gak, yang penting masalah yang ada selesai dulu..
@okta: *ikut garuk2 kpala*
Aku punya utang ke kamu, kan?? ntar ajah bayarnya yah….
Humm ..
IMO , hutang selama bisa bayar nggak papa meski, dalam ISLAM dilarang banyak berhutang apabila tidak mampu membayar, dan lebih disarankan tawakkal.
kalo utang untuk investasi dan usaha (dengan catatan ada itungan2xnya) maka gak papa .. asal mampu bayar.
Yang dikawatirkan adalah apabila kita mati dalam keadaan berhutang, Rasulullah tidak mau mensholati jenazah orang yang berhutang, meski para sahabat masih mensholatinya, hal ini menunjukkan gimana dibencinya berhutang dengan tidak bayar tersebut.
SO kalo saya pribadi mungkin seperti orang jawa itu, selama untuk kebutuhan dalam negeri (keluarga) saya usahakan untuk tidak berhutang, kalo untuk usaha yah dihitung2x dulu yang bener .. kalo emang diperkirakan Insya ALLAH mampu bayar yah berhutang … demi pengembangan usaha ..
regards
Allohu’alam
utang itu berlaku dalam kamus gwe klo udah bener2 kepepet dan ga ada uang
memang memalukan sih, tapi so far gwe klo pinjem uang ke mama atau ke adek gwe, jd ga terlalu malu2 amatlah..masih keluarga juga.
utang juga jangan dibiasain, sangat tdk.mendidik!! dalam artian ga mau usaha lebih keras ntarnya, dikit2 minjem duit klo lagi bokek.
*deuh..berasa kasih wejangan buat diri sendiri. BERKACA DHIN!!!wakakakakakakakkk….
*
aduh jangan ngomong soal utang deh.. jadi maklum nih.. aye juga lagi banyak utang nich… he..he..he..kabur deh..
Utang itu menurut saya optional, baik dalam bisnis ataupun dalam kehidupan sehari-hari. kalo masalah utang iibaratkan dengan credit card dan sebuah simbol life style, saya kira toh itu bagian dari proses perkembangan jaman, gak usah malu yang penting simple, makan dan belanja dimana2 dapet diskon, kemarin saya ke sbuah tempat mkan yang ditanyain pertama bukan menu, tapi “mas pemegang kartu kredit blaa..blaa..?ada diskon 30 persen setiap menu”
satu lagi, pernah baca artikel mengapa orang pribumi (orang jawa mungkin) kurang berkembang dalam hal berbisnis, karena pandangan mereka untuk berbisnis sekedar biar cepet kaya, nah smentara untuk mereka yg nonpri berpikiran gimana bisnisnya bisa berkembang, ya mau tidak mau biar berkembang butuh investasi besar dan pinjaman modal
hehehe..jadi malu kalo ingat hutang………
Saat ini hutang telah jadi gaya hidup sebagian masyarakat kita…
kalo ditanya : kenapa kok suka ngutang?
dijawab : wong pemerintah aja hobi ngutang.
masa kita kalah…
kira-kira begitulah…
apaan sih tidak nyambung!!!!
***pusing mikirin hutang****
hehehe…..
cory bila tidak berkenan
salam
Utang??
Hobiku tuuh!!
*Uuupss….Mbuka Aib dewe neeegh…*
utang memang sudah seperti kutang
utang = kutang
1. kUtang sebagai sebuah keharusan
2. kUtang sebagai sebuah hal yang memalukan
3. kUtang sebagai sebuah gaya hidup
tul ga??
hehe
~peace, no offense
lam kenal